Dua pekan terakhir, mungkin tema hidupku hunting beasiswa ke luar negeri. Senin pekan lalu, aq ikut presentasi beasiswa master dari Kanazawa University di ruang Basic Science B. Orang Jepangnya langsung presentasi di ITB, karena kebetulan ada acara ICMNS II. Dua hari setelah itu, hari rabu, aq ikut presentasi beasiswa dari Tokyo Institute of Technology di ruang 9311. Yang dari Tokyo ini lebih keren daripada yang dari Kanazawa. Ya jelas lah, peringkat universitas aja beda. Besoknya, hari Kamis, sebenarnya ada presentasi beasiswa dari National Taiwan University. Tapi, aq ga bs ikut soalnya bentrok ama jadwal ngajar bimbel SMA di NATC. Padahal, untuk presentasi dari NTU, qta bisa langsung kasih aplikasi pendaftaran beasiswa.
Nah, dua hari yang lalu, hari Minggu. Aq ma Iqbal (Fi 04, calon ahli fisika nuklir buronan CIA) jalan2 ke European Higher Education Fair (EHEF) di Balai Kartini, Jakarta. Lumayan keren, banyak stand universitas di Eropa. Aq sempat ngobtol dengan doktor Teknik Kimia dari University of Gronigen menggunakan TOEFL-ku yang pas-pasan (hihi). Katanya sih, jurusan kimia di Gronigen, the best in Netherland. Terus mampir ke stand universitas dari Jerman. Ternyata biaya SPP untuk master di Jerman hampir sama dengan biaya kuliah master di Indonesia. Di Jerman, rata2 SPP untuk kuliah master sekitar 500 Euro /semester (kalo 1 euro ~ 13.000, berarti ekivalen ~Rp.6.500.000). Berarti hampir sama donk dengan biaya kuliah master di ITB yang sekitar 5-6 jutaan / semester. Tapi kan, kualitas kuliah di Jerman jauh lebih hebring dibandingkan dengan di Indonesia. Terus disana, qta bs kerja part time atau riset qta di lab digaji sama profesornya (sekitar 9 euro/jam untuk kerja di lab).
Nah, besok hari Rabu. Ada acara Perancis Masuk Kampus. Acaranya pameran pendidikan tinggi dari Perancis, tempatnya di Campus Center barat. Pasti ada peluang-peluang tawaran beasiswa di situ.
Duh, jadi bingung banyak pilihan gini. Padahal, ba’da lebaran kemarin, aq dah ngerencanain mw jd Technopreneur bikin usaha budidaya dan penyulingan nilam di Kuningan. Aq dah survey n Bapak ku dah siapin lahan di sono. Skrg lagi cari2 modal n link bisnisnya.
Sebenernya aq dah geregetan ngelihat potensi natural resource Indonesia yang berlimpah ruaaaaaah. Dari kacamata orang kimia, Indonesia adalah surga senyawa-senyawa kimia alam yang akan mengubah peradaban dunia. Indonesia adalah surga perburuan gen-gen berbagai spesies untuk industri bioteknologi. Indonesia adalah surga mineral untuk material nanoteknologi.
4 tahun di Smakbow n 5 tahun di ITB rasanya dah mantep betul gemblengan untuk menjadi kimiawan yang akan mengubah peradaban dunia, yah minimal Nusantara dulu lah (Sorry, aq gak suka dgn Istilah Indonesia, kerena nama Indonesia pemberian orang jerman n Belanda).
Sebenarnya agak ngeri jg kalo kuliah tinggi ke luar negeri, apalagi ambil tema yang ‘Advance Science’. Takut gak kepake ilmunya pas balik ke Indonesia. Cerita temanku yang kerja di Lipi, peneliti di Lipi yang gelarnya ngeri-ngeri (Prof, Dr, M.Sc, D.Sc, Ph.D, DEA, Dr.Eng, dll silakan teruskan sendiri) gak bisa berbuat banyak mengembangkan aplikasi ilmunya. Malah katanya, ada seorang Doktor peneliti jenius yang di bidang Magnetic Material Science, akhirnya nyambi bisnis pasir besi (hihihi). Apalagi, tema penetian Tugas Akhirku kan imajiner banget, tentang simulasi Molecular Dynamics unfolding molekul protein. Mau ngapain coba? kecuali di Nusantara ada tempat kayak Hyderabad Genome Valley, aq bisa ngembangin Nanobioteknologi rekayasa gen dan protein (mahluk apakah itu nanobioteknologi?).
Pusing euy, apalagi lihat momentum 2009. Kayaknya aq mw jadi revolusioner aja deh. Membubarkan negara ini, terus bikin negara baru yang bernama Nusantara. Negeri impianku !
(5 November, dini hari yang sepi, dtemani kopi panas, menyelesaikan script analisis hasil MD program AMBER)