Posted by: mahasiswanegarawan | Nopember 7, 2008

MENTARI DAN BALADA SEORANG KELANA

Ini lagu-lagu favoritku. Lagu mentari biasa kudengarkan tiap pagi menjelang berangkat kuliah. Lagu mentari merupakan lagu ‘keramat’ mahasiswa ITB. Bahkan semangat lagu mentari mampu mengalahkan lagu mars dan hymne ITB. Sampai-sampai temanku satu kostan di rumah kontrakan dulu sempat menanyakan : ‘Siapa sih mentari, kok ga bosen dengerin lagunya tiap pagi? Jawabku sih simpel aja :’mentari ya mentari, rasakan sendiri di urat darahmu’.

Yang kedua lagu ‘Balada Seorang Kelana’. Lagu ini pertama kudengar dari tetangga kostan yang seorang musisi (kios pulsanya kalo sore berubah jadi tempat kursus biola n gitar bwt anak2 SD). Suatu hari, tetanggaku ini menyanyikan lagu ‘Balada Seorang Kelana’ dengan memainkan gitar akustik. Asyik bener dah. Terus aq hunting file mp3-nya di internet. Hmm, lagu ini tambah enak kalo dinyanyikan sambil menyusuri hutan di perbukitan Bandung utara (duh, jadi kangen hiking ke Jayagiri, Dago Pakar, n hutan KBU lainnya).

Dan ternyata kedua lagu itu adalah karya kang Iwan Abdurrachman -seorang aktivis lingkungan -sesepuh Wanadri. Setelah itu aq cari-cari mp3 lagu-lagu karya kang Iwan. Ternyata lagunya asyik-asyik benget.

MENTARI

Mentari menyala di sini
Di sini di dalam hatiku
Gemuruh apinya di sini
Di sini di urat darahku

Meskipun tembok yang tinggi mengurungku
Berlapis pagar duri sekitarku
Tak satu pun yang sanggup menghalangiku
Bernyala di dalam hatiku

Hari ini hari milikku
Juga esok masih terbentang
Dan mentari kan tetap menyala
Di sini di urat darahku


BALADA SEORANG KELANA

Keheningan alam di tengah rimba sunyi
Kuberjalan seorang diri sbagai seorang kelana
Kudambakan jiwaku padamu oh Tuhanku
Kuberdoa sepenuh hati smoga tercapai tujuanku

Kuberjuang penuh tekad demi nusa dan bangsa
Dingin, hening dan sepi di daun angin berbisik
Hai kelana tabahkan hatimu
Tuhan slalu besertamu

Posted by: mahasiswanegarawan | Nopember 4, 2008

Antara ke Jepang, Perancis, Jerman, atau Tetap di Nusantara

Dua pekan terakhir, mungkin tema hidupku hunting beasiswa ke luar negeri. Senin pekan lalu, aq ikut presentasi beasiswa master dari Kanazawa University di ruang Basic Science B. Orang Jepangnya langsung presentasi di ITB, karena kebetulan ada acara ICMNS II. Dua hari setelah itu, hari rabu, aq ikut presentasi beasiswa dari Tokyo Institute of Technology di ruang 9311. Yang dari Tokyo ini lebih keren daripada yang dari Kanazawa. Ya jelas lah, peringkat universitas aja beda. Besoknya, hari Kamis, sebenarnya ada presentasi beasiswa dari National Taiwan University. Tapi, aq ga bs ikut soalnya bentrok ama jadwal ngajar bimbel SMA di NATC. Padahal, untuk presentasi dari NTU, qta bisa langsung kasih aplikasi pendaftaran beasiswa.

Nah, dua hari yang lalu, hari Minggu. Aq ma Iqbal (Fi 04, calon ahli fisika nuklir buronan CIA) jalan2 ke European Higher Education Fair (EHEF) di Balai Kartini, Jakarta. Lumayan keren, banyak stand universitas di Eropa. Aq sempat ngobtol dengan doktor Teknik Kimia dari University of Gronigen menggunakan TOEFL-ku yang pas-pasan (hihi). Katanya sih, jurusan kimia di Gronigen, the best in Netherland. Terus mampir ke stand universitas dari Jerman. Ternyata biaya SPP untuk master di Jerman hampir sama dengan biaya kuliah master di Indonesia. Di Jerman, rata2 SPP untuk kuliah master sekitar 500 Euro /semester (kalo 1 euro ~ 13.000, berarti ekivalen ~Rp.6.500.000). Berarti hampir sama donk dengan biaya kuliah master di ITB yang sekitar 5-6 jutaan / semester. Tapi kan, kualitas kuliah di Jerman jauh lebih hebring dibandingkan dengan di Indonesia. Terus disana, qta bs kerja part time atau riset qta di lab digaji sama profesornya (sekitar 9 euro/jam untuk kerja di lab).

Nah, besok hari Rabu. Ada acara Perancis Masuk Kampus. Acaranya pameran pendidikan tinggi dari Perancis, tempatnya di Campus Center barat. Pasti ada peluang-peluang tawaran beasiswa di situ.

Duh, jadi bingung banyak pilihan gini. Padahal, ba’da lebaran kemarin, aq dah ngerencanain mw jd Technopreneur bikin usaha budidaya dan penyulingan nilam di Kuningan. Aq dah survey n Bapak ku dah siapin lahan di sono. Skrg lagi cari2 modal n link bisnisnya.

Sebenernya aq dah geregetan ngelihat potensi natural resource Indonesia yang berlimpah ruaaaaaah. Dari kacamata orang kimia, Indonesia adalah surga senyawa-senyawa kimia alam yang akan mengubah peradaban dunia. Indonesia adalah surga perburuan gen-gen berbagai spesies untuk industri bioteknologi. Indonesia adalah surga mineral untuk material nanoteknologi.

4 tahun di Smakbow n 5 tahun di ITB rasanya dah mantep betul gemblengan untuk menjadi kimiawan yang akan mengubah peradaban dunia, yah minimal Nusantara dulu lah (Sorry, aq gak suka dgn Istilah Indonesia, kerena nama Indonesia pemberian orang jerman n Belanda).

Sebenarnya agak ngeri jg kalo kuliah tinggi ke luar negeri, apalagi ambil tema yang ‘Advance Science’. Takut gak kepake ilmunya pas balik ke Indonesia. Cerita temanku yang kerja di Lipi, peneliti di Lipi yang gelarnya ngeri-ngeri (Prof, Dr, M.Sc, D.Sc, Ph.D, DEA, Dr.Eng, dll silakan teruskan sendiri) gak bisa berbuat banyak mengembangkan aplikasi ilmunya. Malah katanya, ada seorang Doktor peneliti jenius yang di bidang Magnetic Material Science, akhirnya nyambi bisnis pasir besi (hihihi). Apalagi, tema penetian Tugas Akhirku kan imajiner banget, tentang simulasi Molecular Dynamics unfolding molekul protein. Mau ngapain coba? kecuali di Nusantara ada tempat kayak Hyderabad Genome Valley, aq bisa ngembangin Nanobioteknologi rekayasa gen dan protein (mahluk apakah itu nanobioteknologi?).

Pusing euy, apalagi lihat momentum 2009. Kayaknya aq mw jadi revolusioner aja deh. Membubarkan negara ini, terus bikin negara baru yang bernama Nusantara. Negeri impianku !

(5 November, dini hari yang sepi, dtemani kopi panas, menyelesaikan script analisis hasil MD program AMBER)

Posted by: mahasiswanegarawan | Nopember 4, 2008

Tidak Ada Melati di Jayagiri

Beberapa kali saya ‘hiking’ ke hutan Jayagiri, Lembang. Awalnya waktu masih kuliah tingkat satu, iseng aja, lihat plang ‘Taman Jung Hun’ sebelum masjid besar kecamatan Lembang. Seinget saya, dulu pernah diceritain ama guru SD, kalo Jung Hun adalah penemu obat malaria dari tanaman kina. Jadilah, saya naek ke atas sendirian bertualang. Di ujung jalan desa, ketemu pintu masuk hutan Jayagiri. Ternyata nembus2nya sampai ke Gunung Tangkuban Parahu, kira-kira 2 jam jalan kaki dari pintu masuk hutan Jayagiri. Rutenya asyik, lewat hutan pinus, padang ilalang, dan sesekali bertemu warga desa yang sedang membawa hasil hutan. Yang mengagumkan, rombongan Ibu-ibu desa setengah baya bersepatu bot, membawa keranjang besar berisi dedaunan dalam gendongan besar di pundaknya menuruni bukit.

Akhirnya kalo lagi suntuk, saya hiking sendirian ke hutan Jayagiri sampai ke puncak Tangkuban Parahu. Malah pernah dulu, bareng ama 3 orang kawan, hiking ke hutan Jayagiri berangkat jam 9 malem sampe ke Puncak Tangkuban Parahu, gelap-gelapan gak pake senter sama sekali. Untungnya lg bulan purnama. Asyiknya pas di Puncak menikmati indahnya bulan Purnama, malam yang romantis sambil bakar jagung yang dibeli di pasar lembang (hiks, kayu bakarnya ngambil dari lapak2 pedagang asongan).

Nah, akhirnya kebayang juga lagu tempo doeloe yang dibawakan oleh grup musik Bimbo yang judulnya : ‘MELATI DARI JAYAGIRI’.

MELATI DI JAYAGIRI

Di puncak bukit
Telah saling janji
Telah terjadi
Janji sehidup semati

Melati dari Jayagiri
Kuterawang keindahan kenangan
Hari-hari lalu di mataku
Tatapan yang lembut dan penuh kasih ...

Kuingat di malam itu
Kau beri daku senyum kedamaian
Hati yang teduh
dalam dekapan
Dan kubiarkan kau kecup bibirku

Mentari kelak kan tenggelam
Gelap kan datang dingin mencekam
Harapanku bintang kan terang
Memberi sinar dalam hatiku

Kuingat di malam itu
Kau beri daku senyum kedamaian
Mungkinkah akan tinggal kenangan
Jawabnya tertiup di angin lalu.

Yang jadi masalah, saya belum pernah menemukan bunga Melati di hutan Jayagiri. Lagian bunga melati kan tumbuhnya di dataran rendah. Sedangkan hutan Jayagiri ada di dataran tinggi. Terus apa makna ‘Melati dari Jayagiri’.

Ow -ow, pengarang lagu ‘MELATI DARI JAYAGIRI’ yaitu kang Iwan Abdurrachman (sesepuh Wanadri) punya latar belakang menuliskan lagu itu. Berdasarkan sumber dari sebuah milis di internet, ternyata MELATI tersebut adalah istilah kang Iwan Abdurrachman untuk adik kelasnya, yang ‘ditembak’ di hutan Jayagiri di suatu malam pd tahun 1970-an. Ternyata peristiwa tersebut berkesan betul, sehingga kang Iwan membutkan lagu tersebut. Meskipun sang pencipta lagu -kang Iwan-, ditolak cintanya waktu ‘nembak’ di jayagiri. (tapi, ada versi lain juga lho mengenai tafsir lagu Melati Di Jayagiri, seperti di situs ini)
Luar biasa, sekali cinta ditolak, bisa membuat lagu yang melegenda.
Kalo gitu, saya harusnya bisa satu lagu sejenis kali ya (hehe, becanda).

Posted by: mahasiswanegarawan | Oktober 14, 2008

Eksperimen dan Hipotesa Pertama

Keingintahuanku tentang dunia sains kayaknya udah mulai terindikasi sejak kecil. Eksperimen pertama untuk membuktikan sebuah hipotesa ilmiah udah aq lakukan sekitar usia 7 tahun ketika masih kelas 1 SD.

Ceritanya dulu, aq masih tinggal di rumah nenek. Di belakang rumah nenek ada tanaman rambat berwarna hijau. Orang di kampungku menyebutnya tanaman cuing (cincau hijau). Kalau musim kemarau atau bulan puasa, biasanya keluargaku membuat es cuing. Bahannya dari ekstrak tanaman cuing yang akan menghasilkan cuing yang kenyal (mirip agar-agar). Cuing yang sudah mengenyal dicampur dengan es sirop atau air gula jawa.

Nah, terus aq berpikir, apakah bahan sejenis ‘agar-agar’ berwarna hijau hanya bisa dihasilkan dari tanaman cuing saja? mungkinkah tanaman hijau lain bisa menghasilkan ekstak yang mengenyal seperti cuing?

Untuk membuktikan hipotesa tersebut, lantas aq melakukan eksperimen. Caranya yang paling gampang, waktu itu aq ‘mengerok’ lumut hijau yang ada di dinding sumur. Lumut yang terkumpul, aq kasih kasih air panas sehingga menghasilkan cairan ekstrak berwarna hijau. Setelah disaring, ekstrak lumut itu, aq masukan ke rantang makanan. Terus disimpan di dalam rak tempat makanan. Lalu aq tunggu sampai ekstrak tersebut dapat mengenyal.

Orang-orang di rumah (paman,bibi,dll) ketika membuka rak makanan bertanya :‘itu apa yang disimpan di rantang‘. Aq menjawabnya :‘lg membuat cuing’. Mereka mengira aq benar-benar membuat cuing dari tanamannya. Ditunggu sampai malam, ekstrak lumut hijau belum mengenyal juga. Bahkan sampai sudah 2 hari. Karena mulai bau, orang-orang di rumah menanyakan lagi : ‘emang buat cuingnta dari apa?, kok ga kenyal-kenyal’ . Aq menjawab : ‘dari lumut yang ada di sumur’ . Hahaha, sontak orang-orang di rumah tertawa. Hipotesa pertama yang gagal.

Itulah aq, manusia imajiner sejak kecil. Bahkan Tugas Akhir Penelitian S1-ku, lebih imajiner lg (nanti kuceritakan deh tentang dimulasi molecular dynamics).

‘Imagination is more important than knowledge’ (Albert Einstein)

Posted by: mahasiswanegarawan | Oktober 14, 2008

SMS Lebaran Paling Aneh

Sekitar pukul enam-an pagi tanggal 1 Oktober 2008, muncul sms ucapan selamat lebaran dari seorang kawan yang behaluan neoliberal. SMS lebaran paling aneh yang pernah saya terima. Begini bunyinya :

“Buah pepaya dimakan gagak, maafin gw ya awas kalo kagak… Selamat idul fitri dan hari kesaktian pancasila! Let’s kick those communist bastards! Hidup soeharto!”

Aneh kan?  Coba tebak siapa yang ngirim?

Tapi ya, seoarang kawanku lagi yang berasal dari organisasi ‘kiri’-sosialis’, malah kirim SMS lebaran yang lebih santun. Kira-kira begini bunyinya (sms-nya dah kehapus, jadi coba gw inget-inget aja) :

“Semoga Bung dan keluarga dalam keadaan sehat dan selamat merayakan hari raya Idul Fitri”

He, itulah aku yang punya teman dari garis kanan mentok sampai kiri mentok.

Older Posts »

Kategori